Nasional

10 Hari Tanpa Jejak, SAR Hentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru Arupadhatu I di Selat Sunda

Fazlur Rahman 20 September 2026 2 penayangan

Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat Arupadhatu I

Penghentian operasi diumumkan Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang. Menurut Andra, evaluasi menyeluruh menunjukkan pencarian sudah tidak efektif karena seluruh sektor yang disisir belum memberikan petunjuk mengenai keberadaan rombongan.

“Secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” ujar Andra.

Pencarian dilakukan dengan melibatkan unsur SAR gabungan melalui jalur darat, laut, hingga udara. Selama 10 hari operasi, sebanyak 523 personel

8.509 mil laut persegi

Kapal tersebut sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang

Dalam perjalanan, komunikasi dengan rombongan sempat terjadi. Berdasarkan catatan operasi SAR, posisi terakhir diketahui setelah rombongan mengirimkan lokasi kepada rekan jurnalis di Lampung pada sekitar pukul 14.42 WIB. Beberapa puluh menit kemudian, tepatnya sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan kapal dilaporkan terputus.

Delapan orang yang masuk dalam pencarian terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru kapal. Lima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni, jurnalis lepas

Selama penyisiran, tim SAR sebenarnya sempat menemukan sejumlah material terapung yang berada di kawasan pencarian. Total terdapat 13 objek

Namun, seluruh objek tersebut kemudian diverifikasi oleh Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda Banten. Hasil pemeriksaan memastikan objek-objek tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan fisik maupun perlengkapan Arupadhatu I

Selama pencarian, tim juga harus menghadapi kondisi wilayah operasi yang tidak sederhana. Kawasan Selat Sunda merupakan perairan dengan lalu lintas kapal yang cukup aktif, sementara lokasi pencarian berada di sekitar gunung api aktif. Kondisi laut, cuaca, arus, serta luas area yang harus disisir menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau secara ketat. Kondisi tersebut membuat tim SAR harus memperhitungkan faktor keselamatan personel ketika melakukan penyisiran di sekitar kawasan gunung api dan perairan terbuka.

Keputusan menghentikan operasi pada hari ke-10 bukan berarti seluruh upaya pencarian ditutup untuk selamanya. Basarnas dan pemerintah daerah memastikan operasi dapat dibuka kembali sewaktu-waktu apabila muncul informasi baru, laporan masyarakat yang terkonfirmasi, atau ditemukan material yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu I

Pemantauan pun tetap dilanjutkan. Informasi dari kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda, nelayan, maupun masyarakat di wilayah pesisir akan tetap diperhatikan untuk melihat kemungkinan munculnya petunjuk baru. Dengan pola tersebut, pencarian beralih dari operasi SAR aktif menjadi pemantauan yang dapat kembali ditingkatkan apabila terdapat perkembangan signifikan.

Penghentian operasi menjadi pukulan berat bagi keluarga delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Selama 10 hari, keluarga dan rekan-rekan mereka mengikuti perkembangan pencarian dengan harapan tim gabungan menemukan setidaknya satu petunjuk yang dapat mengungkap apa yang terjadi setelah kapal kehilangan kontak.

Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, nelayan, hingga masyarakat yang membantu memberikan informasi selama proses pencarian.

Kasus Arupadhatu I juga menjadi perhatian karena rombongan tersebut berada di Selat Sunda dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hilangnya kapal dan seluruh penumpangnya kemudian berkembang menjadi operasi pencarian besar yang melibatkan ratusan personel dan mencakup wilayah laut yang luas.

Hingga operasi resmi dihentikan, belum ada kesimpulan mengenai apa yang terjadi terhadap Arupadhatu I setelah komunikasi terputus. Tim SAR belum menemukan kapal, korban, maupun material yang bisa dipastikan berasal dari kapal tersebut. Dengan demikian, berbagai dugaan mengenai penyebab hilangnya kapal masih belum dapat dipastikan berdasarkan hasil pencarian yang ada.

Kini, setelah 10 hari pencarian tanpa hasil, laut di sekitar Gunung Anak Krakatau kembali menyimpan tanda tanya besar. Operasi aktif memang telah dihentikan, tetapi pintu pencarian belum sepenuhnya tertutup.

Setiap laporan baru dari nelayan, kapal yang melintas, maupun masyarakat di sekitar Selat Sunda tetap dapat menjadi petunjuk penting. Jika informasi tersebut terkonfirmasi dan memiliki kaitan dengan Arupadhatu I, Basarnas menyatakan operasi pencarian dapat kembali dibuka.

Untuk sementara, keluarga dan publik masih menanti satu hal yang belum terjawab: di mana Arupadhatu I dan delapan orang di dalamnya berada setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda?

Topik

Memuat tag...