Nasional

Dentuman Misterius Guncang Bandung Raya, BMKG Ungkap Dugaan Skyquake Terkait Aktivitas Anak Krakatau

Fazlur Rahman 06 September 2026 2 penayangan

Dentuman misterius kembali mengusik warga Bandung Raya, Jawa Barat. Suara gemuruh yang terdengar pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari tersebut membuat warga bertanya-tanya mengenai sumber suara yang terdengar cukup jelas di sejumlah wilayah.

Fenomena itu kemudian menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Setelah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah parameter, BMKG menyebut dentuman tersebut memiliki karakteristik yang menyerupai fenomena skyquake

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, mengatakan pihaknya melakukan penelusuran dengan memeriksa berbagai data untuk mengetahui kemungkinan penyebab suara tersebut. Data yang dianalisis mencakup aktivitas kegempaan, petir, kondisi cuaca, hingga aktivitas magnet bumi.

Menurut Suaidi, hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat aktivitas kegempaan signifikan di wilayah Bandung Raya ketika dentuman terdengar. Kondisi tersebut sekaligus memperkecil kemungkinan bahwa suara yang dirasakan warga berasal dari gempa bumi yang terjadi di sekitar Bandung.

Perhatian khusus diberikan terhadap Sesar Lembang, salah satu struktur geologi yang berada di kawasan Bandung dan selama ini menjadi perhatian dalam pemantauan kegempaan. Namun, berdasarkan rekaman seismik yang diperiksa BMKG, tidak ditemukan aktivitas seismik yang signifikan pada waktu yang diduga berkaitan dengan munculnya dentuman.

“Hasil data dari seismik, ya. Data hasil dari seismik kita bahwa aktivitas seismik di Sesar Lembang tidak signifikan. Artinya, tidak ada aktivitas seismik yang berkembang pada saat jam yang kita curigai,” kata Suaidi, Sabtu (5/9/2026).

Pemeriksaan kemudian diperluas ke kondisi atmosfer. BMKG menggunakan berbagai data pengamatan, termasuk citra satelit Himawari, untuk melihat kondisi awan dan aktivitas atmosfer di wilayah Jawa Barat pada saat dentuman dilaporkan.

Hasil pemantauan menunjukkan kondisi cuaca di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, secara umum cerah. Citra satelit juga tidak memperlihatkan adanya aktivitas pengumpulan awan yang signifikan di sekitar Bandung Raya pada waktu kejadian.

Temuan tersebut membuat BMKG mempertimbangkan kemungkinan lain di luar aktivitas meteorologis maupun kegempaan lokal. Salah satu petunjuk yang menjadi perhatian adalah adanya aktivitas vulkanik di kawasan Gunung Anak Krakatau pada waktu yang berdekatan dengan laporan dentuman.

Kondisi tersebut menjadi dasar bagi BMKG untuk menduga adanya hubungan antara aktivitas vulkanik Anak Krakatau dengan fenomena suara yang terdengar di Bandung Raya. Namun, BMKG masih menggunakan istilah dugaan karena hubungan langsung antara erupsi dan suara yang terdengar di Bandung belum dapat dinyatakan sebagai kepastian.

“Jadi, aktivitas skyquake ini, skyquake, ya, maksudnya dentuman langit. Kita curigai adanya fenomena yang tidak lazim,” ujar Suaidi.

Fenomena skyquake sendiri bukan merupakan istilah yang secara otomatis menunjuk pada satu penyebab tertentu. Istilah tersebut lebih menggambarkan kejadian ketika suara seperti ledakan atau dentuman terdengar di atmosfer atau dari arah langit, sementara sumbernya tidak mudah diidentifikasi.

Fenomena serupa juga pernah dilaporkan terjadi di Indonesia. Suaidi menyebut kejadian di wilayah Bogor pada April 2020 yang saat itu juga dikenal sebagai fenomena skyquake.

Dalam kasus Bandung Raya, BMKG tidak hanya mengandalkan satu jenis data. Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan rekaman seismik, informasi satelit, aktivitas petir, kondisi atmosfer, serta data magnetik.

Pendekatan tersebut penting karena suara yang terdengar dari jarak jauh dapat memiliki sumber yang berada cukup jauh dari lokasi pendengar. Kondisi atmosfer tertentu juga dapat memengaruhi bagaimana gelombang suara merambat dan terdengar di permukaan.

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau menjadi salah satu faktor yang tengah diperhatikan karena gunung tersebut berada di kawasan Selat Sunda dan pada periode yang sama tercatat mengalami aktivitas erupsi.

Jika dugaan tersebut terbukti, maka dentuman yang terdengar di Bandung Raya kemungkinan merupakan fenomena yang sumbernya berada jauh dari wilayah pendengar. Namun, mekanisme pasti bagaimana aktivitas di kawasan Krakatau dapat menghasilkan suara yang terdengar hingga Bandung masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Karena itu, laporan warga mengenai suara dentuman tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai tanda terjadinya gempa atau aktivitas langsung dari Sesar Lembang. Data instrumental BMKG justru menunjukkan tidak adanya perkembangan aktivitas seismik signifikan di wilayah tersebut ketika suara terdengar.

Hal ini sekaligus menjadi penjelasan penting bagi masyarakat Bandung Raya yang sempat mengaitkan dentuman dengan kemungkinan gempa bumi. Tidak ditemukannya aktivitas seismik signifikan membuat dugaan tersebut belum memiliki dukungan dari rekaman kegempaan BMKG.

Meski demikian, kemunculan suara misterius tersebut tetap menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti. Apalagi laporan datang dari sejumlah wilayah dan terjadi pada waktu yang berdekatan dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

BMKG masih perlu melakukan pencocokan lebih lanjut terhadap berbagai parameter untuk memastikan apakah terdapat hubungan sebab-akibat antara erupsi Anak Krakatau dan dentuman yang terdengar di Bandung Raya. Analisis semacam ini membutuhkan data yang akurat agar kesimpulan yang dihasilkan tidak sekadar berdasarkan kesamaan waktu kejadian.

Bagi masyarakat, fenomena tersebut juga menjadi pengingat bahwa suara keras yang terdengar dari kejauhan tidak selalu berasal dari sumber yang berada di sekitar lokasi mereka. Dalam kondisi tertentu, fenomena atmosfer, aktivitas vulkanik, maupun sumber suara lainnya dapat menghasilkan pengalaman yang sulit dijelaskan hanya berdasarkan apa yang terdengar oleh telinga.

Untuk sementara, BMKG mengarahkan dugaan pada fenomena skyquake dan kemungkinan keterkaitannya dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, dugaan tersebut masih menunggu penguatan melalui analisis data lebih lanjut.

Di tengah rasa penasaran warga, satu hal telah dipastikan dari pemantauan awal BMKG: tidak terdapat aktivitas seismik signifikan di Sesar Lembang ketika dentuman terdengar.

Dengan demikian, dentuman misterius yang mengguncang perhatian warga Bandung Raya belum dapat disebut sebagai pertanda gempa. Fenomena tersebut masih menjadi teka-teki atmosfer dan geofisika yang sedang ditelusuri, dengan aktivitas Anak Krakatau menjadi salah satu petunjuk penting dalam pencarian jawabannya.

Topik

Memuat tag...