Nasional

Gambut Kalimantan Terbakar, Ribuan Ton Karbon Terancam Lepas ke Atmosfer

Fazlur Rahman 08 September 2026 4 penayangan

KALIMANTAN — Kebakaran lahan gambut di Kalimantan bukan sekadar persoalan munculnya api di permukaan tanah. Di balik lapisan gambut yang tampak sederhana, tersimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar yang terbentuk dan terakumulasi selama ribuan tahun. Ketika lahan tersebut terbakar, karbon yang tersimpan dalam tanah dapat dilepaskan ke atmosfer dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan proses pembentukannya.

Peneliti lahan gambut dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dr Nisa Novita, mengatakan Indonesia memiliki kawasan gambut tropis yang menjadi salah satu penyimpan karbon alami paling efektif di dunia. Besarnya cadangan karbon tersebut sangat dipengaruhi oleh ketebalan lapisan gambut.

“Lahan gambut tropis di Indonesia termasuk penyimpan karbon alami paling efektif di dunia. Semakin dalam lapisan gambutnya, semakin besar pula cadangan karbon yang tersimpan. Di Kalimantan, kami menemukan deposit gambut yang kedalamannya bisa melebihi 20 meter,” kata Nisa.

Menurut dia, kedalaman gambut yang mencapai lebih dari 20 meter menunjukkan besarnya cadangan karbon yang berada di bawah permukaan. Gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang terurai tidak sempurna dalam kondisi basah dan minim oksigen selama waktu yang sangat panjang.

Dalam kondisi alami, lapisan tersebut berfungsi seperti penyimpan karbon raksasa. Karbon dari vegetasi yang tersimpan di dalamnya tidak langsung kembali ke atmosfer sehingga menjadi bagian penting dari sistem penyimpanan karbon alami sekaligus ekosistem yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Nisa menyebut lahan gambut dengan kedalaman seperti itu dapat menyimpan lebih dari 6.000 ton karbon per hektare. Besarnya jumlah tersebut menggambarkan betapa besar karbon yang berpotensi dilepaskan ketika kawasan gambut mengalami kebakaran.

Jumlah tersebut disebut setara dengan emisi karbon dioksida tahunan dari sekitar 4.800 mobil. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa kerusakan satu hamparan gambut tidak hanya berdampak pada vegetasi yang terbakar, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan dan emisi karbon.

Masalahnya, kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari kebakaran vegetasi biasa. Api tidak selalu hanya bergerak di permukaan. Ketika kondisi gambut mengering, api dapat menjalar ke dalam lapisan tanah dan membakar material organik yang selama bertahun-tahun menyimpan karbon.

Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut jauh lebih sulit dikendalikan. Bahkan ketika kobaran api di permukaan tampak mulai mengecil, bara dapat tetap bertahan di bawah tanah dan muncul kembali di lokasi lain. Proses pemadaman pun membutuhkan waktu, air, tenaga, serta pemantauan secara terus-menerus.

Dampaknya tidak berhenti pada hilangnya tutupan vegetasi. Ketika lapisan gambut terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun dapat terlepas ke atmosfer dengan cepat. Peristiwa tersebut mengubah fungsi gambut dari penyimpan karbon menjadi sumber emisi.

“Ketika lahan tersebut terbakar, karbon purba yang tersimpan di dalamnya dapat terlepas ke atmosfer dengan sangat cepat,” ujar Nisa.

Ancaman itulah yang kini dihadapi di sejumlah kawasan gambut di Kalimantan. Kebakaran membuat petugas dan relawan harus bekerja keras untuk mencegah api semakin meluas serta merambat ke lapisan gambut yang lebih dalam.

Dwi Sujatmoko menjadi salah satu relawan yang berada di garis depan upaya pemadaman. Bersama relawan pemadam kebakaran lainnya, ia berusaha menahan laju api yang terus mengancam kawasan gambut.

Bagi para relawan, memadamkan kebakaran gambut bukan pekerjaan sederhana. Medan yang sulit, titik api yang dapat muncul berulang, serta potensi bara yang bertahan di bawah permukaan membuat proses penanganannya membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan tinggi.

Setiap bagian lahan yang berhasil diamankan menjadi upaya untuk mencegah kerusakan yang lebih luas. Sebab, semakin lama kebakaran berlangsung, semakin besar pula potensi hilangnya vegetasi, rusaknya ekosistem, dan lepasnya karbon yang tersimpan di dalam tanah.

Lahan gambut juga memiliki fungsi ekologis lain yang tidak kalah penting. Ekosistem tersebut berperan dalam mengatur tata air, menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta mendukung kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Ketika gambut mengalami kebakaran berulang, fungsi-fungsi tersebut ikut terancam. Kerusakan lapisan gambut dapat memperbesar risiko degradasi ekosistem dan membuat kawasan menjadi semakin rentan terhadap kebakaran berikutnya, terutama ketika memasuki periode kering.

Karena itu, penanganan kebakaran gambut tidak cukup hanya dilakukan ketika api telah membesar. Pencegahan, pembasahan kembali kawasan yang mengalami pengeringan, pemantauan titik rawan, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem tersebut.

Perjuangan Dwi Sujatmoko dan para relawan menunjukkan bahwa upaya melindungi gambut tidak hanya berkaitan dengan memadamkan api hari ini. Mereka juga berusaha mempertahankan cadangan karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun agar tidak lenyap dalam hitungan hari.

Kebakaran yang melanda lahan gambut pada akhirnya bukan hanya cerita tentang api yang membakar semak dan pepohonan. Di bawah permukaan, terdapat sejarah panjang kehidupan yang telah berubah menjadi lapisan karbon alami. Sekali terbakar, cadangan tersebut dapat terlepas ke atmosfer dalam waktu singkat.

Dengan karakter gambut Kalimantan yang dapat mencapai kedalaman lebih dari 20 meter, setiap hektare kawasan yang terbakar memiliki arti besar bagi lingkungan. Di tengah kepulan asap dan panasnya titik api, para relawan terus berjuang agar kebakaran tidak semakin dalam dan meluas.

Nasib cadangan karbon tersebut kini berada di garis depan perjuangan para pemadam. Apa yang mereka coba selamatkan bukan hanya hutan yang terlihat di permukaan, tetapi juga salah satu penyimpan karbon alami terbesar yang dimiliki Indonesia.

Topik

Memuat tag...