Football

Gianni Infantino Resmi Membatalkan Rencana Libatkan Investor Swasta di Piala Dunia

Devi Sry Atmaja 02 Agustus 2026 2 penayangan

ZURICH – Presiden FIFA Gianni Infantino resmi membatalkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian bisnis komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Keputusan tersebut diambil setelah proposal yang digagasnya menuai gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia, termasuk UEFA, AFC, dan CONCACAF, serta mendapat kritik tajam dari sejumlah pejabat internal FIFA.

Dalam pernyataan resminya yang dikutip Associated Press (AP), Sabtu (1/8/2026), Infantino menegaskan bahwa FIFA memilih untuk tidak melanjutkan proposal tersebut demi menjaga persatuan dalam keluarga besar sepak bola dunia. "Tujuan kami selalu, dan akan selalu, menyatukan serta memajukan sepak bola. Karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan," kata Infantino.

Keputusan tersebut mengakhiri perdebatan panjang mengenai rencana pembentukan perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang sebelumnya diproyeksikan memiliki valuasi hingga 20 miliar dolar Amerika Serikat. Melalui proposal tersebut, FIFA berencana membentuk perusahaan baru yang bertugas mengelola seluruh aset komersial organisasi, termasuk hak bisnis Piala Dunia FIFA putra, Piala Dunia Putri, serta Piala Dunia Antarklub.

Dalam skema yang diajukan, sekitar 20 persen saham perusahaan tersebut akan dimiliki oleh investor swasta. Salah satu nama yang disebut sebagai calon investor utama adalah perusahaan investasi milik Joshua Kushner, pengusaha asal Amerika Serikat. FIFA berpendapat bahwa masuknya investor strategis akan meningkatkan nilai komersial turnamen sekaligus menghasilkan pendanaan yang lebih besar untuk didistribusikan kepada 211 asosiasi anggota di seluruh dunia. Namun, rencana tersebut justru memicu kekhawatiran mengenai potensi berkurangnya independensi FIFA dalam mengelola kompetisi paling bergengsi di dunia.

Penolakan terhadap proposal tersebut datang hampir dari seluruh konfederasi besar dunia. UEFA menjadi pihak yang paling vokal menentang rencana tersebut. Organisasi sepak bola Eropa itu menilai Piala Dunia merupakan aset sepak bola global yang tidak semestinya melibatkan kepemilikan investor swasta. Bahkan, UEFA sempat mengancam akan memboikot Piala Dunia dan seluruh kompetisi FIFA apabila proposal tetap dipaksakan.

Sikap serupa kemudian diikuti oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) yang sama-sama meminta FIFA mempertahankan model pengelolaan kompetisi secara independen tanpa campur tangan pihak luar. Ketiga konfederasi menilai kebijakan strategis yang menyangkut Piala Dunia harus tetap berada di bawah kendali penuh FIFA dan diputuskan melalui mekanisme konsultasi dengan seluruh anggota.

Tidak hanya mendapat penolakan dari luar organisasi, proposal tersebut juga memicu gejolak di tubuh FIFA sendiri. Salah satu penasihat senior Presiden FIFA, Carlos Cordeiro, memutuskan mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap rencana tersebut. Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) FIFA Kevin Lamour secara terbuka menyebut proposal tersebut sebagai "proyek satu orang", yang menurutnya bukan merupakan hasil keputusan kolektif organisasi.

Pernyataan Lamour memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di jajaran pimpinan FIFA terkait arah pengelolaan bisnis organisasi, sekaligus menjadi sinyal bahwa dukungan terhadap proposal Infantino tidak solid bahkan di lingkungan internal.

Topik

Memuat tag...