Nasional

Hampir Dua Bulan Hilang, Wendri Saputra Ditemukan Tinggal Kerangka di Hutan Sei Ladi Batam

Fazlur Rahman 02 Oktober 2026 2 penayangan

Misteri hilangnya Wendri Saputra, pria berusia 52 tahun yang tinggal di sebuah pondok sederhana di kawasan Simpang Jam, Kota Batam, Kepulauan Riau, berakhir tragis. Setelah hampir dua bulan tidak diketahui keberadaannya, Wendri ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka di kawasan hutan Sei Ladi pada Sabtu (22/8/2026).

Kerangka tersebut pertama kali ditemukan oleh warga yang hendak memancing di kawasan hutan sekitar Sei Ladi. Saat menyusuri area yang berada tidak jauh dari Jembatan Sei Ladi, warga melihat tengkorak manusia serta sejumlah tulang yang berserakan. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada polisi.

Petugas Polsek Batam Kota bersama Tim Inafis Polresta Barelang kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi bagian-bagian kerangka. Sejumlah barang yang ditemukan di sekitar lokasi menjadi petunjuk penting dalam proses identifikasi korban.

Polisi kemudian memastikan kerangka tersebut merupakan Wendri Saputra. Identitasnya terungkap antara lain melalui barang-barang yang ditemukan di lokasi, termasuk telepon seluler dan sejumlah barang pribadi. Keterangan dari orang-orang yang mengenal Wendri juga turut membantu proses pengenalan korban.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, Wendri diketahui telah tinggal sekitar tiga tahun di sebuah pondok sederhana yang berada di kawasan kebun dekat Simpang Jam, yang kini dikenal sebagai kawasan Simpang Fly Over Laluan Madani. Ia tinggal bersama sejumlah rekannya dan menjalani kehidupan sederhana dengan mengandalkan pekerjaan serabutan.

Menurut Agus Tulus Wibowo, salah seorang kenalan Wendri, pria tersebut selama hidupnya dikenal tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia kerap mengambil pekerjaan berdasarkan ajakan teman. Sementara beberapa rekannya bekerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam beberapa bulan sebelum menghilang, kondisi kehidupan Wendri disebut semakin sulit. Ia mulai kesulitan mendapatkan pekerjaan dan terakhir diketahui pernah bekerja di tempat pengumpulan besi tua di kawasan Pelita.

Kondisi fisiknya juga disebut mengalami penurunan. Agus mengatakan tubuh Wendri semakin kurus dan kedua kakinya mengalami pembengkakan. Wendri juga beberapa kali mengalami sesak napas. Namun, menurut Agus, Wendri merupakan orang yang tertutup dan tidak banyak bercerita mengenai kondisi kesehatannya.

Pertemuan terakhir Wendri dengan rekannya terjadi di sekitar kawasan Danau atau Waduk Sei Ladi. Saat itu, Wendri terlihat dalam kondisi kurus dengan kaki yang membengkak. Ia sempat meminta air minum kepada Darmawan, tetapi rekannya tersebut tidak membawa air.

Setelah pertemuan itu, Wendri tidak lagi terlihat. Rekan-rekannya kemudian mencoba mencari informasi mengenai keberadaannya, termasuk mendatangi tempat pengumpulan besi tua tempat Wendri sebelumnya bekerja. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil.

Hampir dua bulan kemudian, kabar mengenai Wendri kembali muncul, tetapi dalam keadaan yang tidak pernah dibayangkan oleh rekan-rekannya. Warga menemukan kerangka manusia di kawasan hutan Sei Ladi dan polisi kemudian mengidentifikasinya sebagai Wendri.

Sejumlah barang milik Wendri yang masih tertinggal di pondok tempat tinggalnya turut menjadi bagian dari cerita terakhir kehidupannya. Alat masak, helm hingga tempat air minum disebut masih berada di pondok.

Keberadaan tempat air minum itu menjadi hal yang membuat rekan-rekan Wendri bertanya-tanya. Pasalnya, pada pertemuan terakhir, Wendri justru sempat meminta air kepada Darmawan. Meski demikian, fakta tersebut belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan apa yang terjadi setelah Wendri meninggalkan kawasan tersebut.

Agus juga menceritakan bahwa sebelum menghilang, Wendri sempat menjual sepeda motornya dengan harga sekitar Rp3 juta lebih. Uang hasil penjualan tersebut kemudian disebut telah habis. Ia juga sempat disarankan menjual telepon selulernya untuk mendapatkan uang, tetapi Wendri menolak.

Kehidupan pribadi Wendri juga menyimpan banyak hal yang tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Agus menyebut Wendri jarang bercerita tentang keluarga maupun kampung halamannya. Ia lebih banyak menjalani kesehariannya bersama teman-teman di pondok dan bekerja ketika mendapatkan kesempatan.

Satu hal yang pernah diceritakan Wendri berkaitan dengan persoalan lama mengenai jual beli sapi, tanah, atau warisan. Menurut cerita yang diterima Agus, persoalan tersebut membuat Wendri tidak berani kembali ke kampung halamannya.

Namun, detail persoalan tersebut tidak diketahui secara pasti oleh Agus. Karena itu, cerita mengenai masalah keluarga tersebut tidak dapat serta-merta dikaitkan dengan kematian Wendri tanpa adanya bukti dan keterangan resmi dari pihak berwenang.

Penemuan kerangka Wendri di kawasan Sei Ladi kini menyisakan pertanyaan mengenai apa yang terjadi sejak terakhir kali ia terlihat hingga ditemukan meninggal dunia. Polisi sebelumnya melakukan pemeriksaan di lokasi dan mengumpulkan sejumlah barang untuk membantu proses identifikasi serta penyelidikan.

Keterangan mengenai kondisi kesehatan Wendri juga masih berasal dari penuturan orang-orang yang mengenalnya. Karena itu, dugaan mengenai penyakit yang pernah dialaminya, termasuk dugaan TBC atau asma, tidak dapat dianggap sebagai penyebab kematian sebelum terdapat hasil pemeriksaan medis atau keterangan resmi dari pihak berwenang.

Bagi rekan-rekan yang selama bertahun-tahun hidup bersama Wendri, hilangnya sosok yang dikenal tertutup itu akhirnya terjawab dengan cara yang menyisakan duka. Pondok sederhana yang pernah menjadi tempat Wendri menjalani kehidupan sehari-hari kini hanya menyimpan barang-barang yang ditinggalkannya.

Sementara itu, temuan kerangka di tengah kawasan hutan Sei Ladi menjadi penutup dari pencarian panjang terhadap keberadaan Wendri Saputra. Proses penyelidikan tetap penting untuk mengungkap rangkaian peristiwa secara utuh, termasuk memastikan kondisi dan penyebab kematiannya berdasarkan bukti yang ditemukan serta hasil pemeriksaan resmi.

Topik

Memuat tag...