Kelangkaan Solar dan Pertalite Picu Antrean Panjang, Korban Jiwa hingga Dugaan Mafia BBM
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kembali menjadi masalah serius di sejumlah daerah. Di Palembang dan Medan, antrean panjang di SPBU hingga berjam-jam memicu korban jiwa, kerugian ekonomi, serta memunculkan dugaan keterlibatan mafia distribusi.
Di Banyuasin, Sumatra Selatan, seorang sopir truk berusia 50 tahun ditemukan meninggal dunia akibat kelelahan saat mengantre solar bersubsidi. Korban diketahui telah menunggu berjam-jam di tengah cuaca panas dan kondisi fisik yang kurang prima. Tragedi ini menjadi sorotan publik sebagai dampak langsung dari kelangkaan BBM yang berlarut-larut.
Sementara itu, di Medan, Sumatera Utara, kelangkaan Pertalite memaksa warga mengantre hingga larut malam bahkan dini hari. Banyak yang akhirnya terpaksa membeli Pertamax dengan harga lebih mahal, sehingga menambah beban ekonomi masyarakat di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Menurut data yang beredar, terdapat kesenjangan besar antara permintaan dan realisasi kuota solar bersubsidi di kedua kota tersebut. Hal ini memicu spekulasi adanya praktik mafia distribusi yang diduga mengalihkan pasokan ke pasar gelap demi keuntungan pribadi.
Pemerintah daerah dan Pertamina diminta segera mengambil langkah konkret, mulai dari penambahan pasokan darurat hingga pengawasan ketat distribusi BBM bersubsidi. Masyarakat berharap kelangkaan ini tidak berlarut-larut agar tidak menimbulkan korban jiwa lebih banyak dan gangguan ekonomi yang lebih luas.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa distribusi BBM bersubsidi harus lebih adil, transparan, dan tepat sasaran agar tidak membebani rakyat kecil.

