Pestapora 2026 Usai, Pesta Musik di Tengah Riuh Tragedi dan Kritik Sosial
Semarak festival musik tahunan Pestapora 2026 akhirnya berakhir pada Senin (28/9/2026) dini hari. Selama tiga hari, Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, berubah menjadi lautan manusia yang menikmati penampilan sekitar 300 musisi dan performer yang tersebar di 19 area panggung.
Puluhan ribu penonton datang membawa energi yang sama: bernyanyi, berdansa, tertawa, dan menikmati berbagai pertunjukan yang disiapkan penyelenggara. Namun, di balik kemeriahan tersebut, Pestapora tahun ini berlangsung ketika ruang publik Indonesia juga dipenuhi berbagai kabar duka, persoalan sosial, hingga tragedi kemanusiaan.
Pesta tetap berjalan, tetapi sejumlah pesan yang muncul dari atas panggung menunjukkan bahwa musik tidak sepenuhnya terpisah dari realitas di luar area festival. Di tengah sorotan lampu dan suara musik yang menggelegar, sejumlah musisi menyelipkan kritik terhadap persoalan lingkungan, kemanusiaan, dan kondisi sosial yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
Situasi tersebut terasa berbeda jika dibandingkan dengan penyelenggaraan Pestapora tahun sebelumnya. Pada edisi 2025 yang digelar pada awal September, sekitar 40 penampil disebut memilih memboikot festival sebagai bentuk protes atas keterlibatan perusahaan tambang ekstraktif sebagai sponsor.
Riak dari polemik tersebut tampaknya masih terasa pada penyelenggaraan tahun ini. Sejumlah penggemar mempertanyakan absennya dua nama yang selama ini dikenal memiliki basis pendengar kuat di kalangan anak muda, yakni Efek Rumah Kaca dan Hindia.
Keduanya dikenal tidak asing dengan karya dan sikap yang kerap bersinggungan dengan persoalan sosial maupun isu kritis. Ketidakhadiran mereka membuat sebagian penonton merasa ada ruang yang kosong, terutama bagi mereka yang menganggap festival musik bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang untuk menyampaikan kegelisahan terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.
Namun, kekosongan tersebut tidak sepenuhnya tanpa suara. The Adams menjadi salah satu penampil yang membawa pesan sosial secara cukup tegas ke atas panggung.
Saat membawakan lagu "Pelantur", visual yang ditampilkan di layar latar memuat kalimat "They Burn". Pesan tersebut mengarah pada kritik terhadap persoalan kebakaran hutan di Kalimantan, dengan penekanan bahwa hutan bukan sekadar terbakar, melainkan dibakar.
Pesan serupa kembali muncul ketika The Adams membawakan lagu "Timur". Kali ini, kalimat "from the river to the sea" ditampilkan sebagai bagian dari visual pertunjukan. Slogan tersebut selama ini digunakan dalam berbagai konteks perjuangan Palestina dan menjadi salah satu simbol yang kerap muncul dalam ekspresi solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Pesan kritik sosial juga datang dari David Bayu. Penyanyi yang dikenal dengan gaya pop mendayunya itu menyelipkan keresahan mengenai persoalan lingkungan ketika membawakan lagu "Dia adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia".
David menyinggung persoalan asap akibat pembakaran hutan. Namun, kritik tersebut tidak disampaikan dalam suasana yang sepenuhnya serius. Dengan gaya khasnya yang jenaka, David menyampaikan keresahan tersebut sambil tetap menjaga suasana pertunjukan agar tidak kehilangan unsur hiburan.
Kontras antara kritik dan hiburan itulah yang menjadi salah satu warna Pestapora 2026. Di satu sisi, festival ini menawarkan kegembiraan dalam skala besar. Di sisi lain, sejumlah musisi menggunakan panggung yang mereka dapatkan untuk menyampaikan pesan mengenai persoalan yang berlangsung di luar pagar festival.
Penyelenggara, Boss Creator, tampaknya memahami betul karakter tersebut. Festival tetap dikemas sebagai sebuah pesta besar dengan atmosfer yang penuh warna, meriah, dan dirancang untuk membuat penonton larut dalam suasana.
Konsep tersebut terlihat dari cara penyelenggara membangun identitas masing-masing panggung. Penamaan area pertunjukan dibuat sedemikian rupa untuk memperkuat kesan riang dan menjadi bagian dari pengalaman Pestapora secara keseluruhan.
Di tengah puluhan ribu orang yang bergerak dari satu panggung ke panggung lainnya, suasana pesta memang menjadi pengalaman utama. Musik berganti tanpa henti, penonton berpindah mencari penampilan favorit, sementara berbagai genre dan karakter pertunjukan bercampur dalam satu ruang yang sama.
Namun, di balik atmosfer tersebut terdapat kontras yang menarik. Festival berlangsung ketika masyarakat juga sedang berhadapan dengan berbagai kabar buruk dan persoalan yang belum selesai. Kegembiraan yang tercipta di dalam area Pestapora seolah menjadi ruang pelarian sementara dari realitas yang lebih berat di luar sana.
Meski demikian, sejumlah penampil menunjukkan bahwa hiburan dan kritik sosial tidak harus berdiri di dua sisi yang berlawanan. Panggung musik justru dapat menjadi ruang untuk menggabungkan keduanya. Penonton tetap bisa menikmati pertunjukan, sementara pesan tentang lingkungan dan kemanusiaan tetap disampaikan.
Kehadiran pesan-pesan tersebut juga memperlihatkan bahwa festival musik hari ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertunjukan. Bagi sebagian musisi dan penonton, festival dapat menjadi ruang bertemu, berbagi keresahan, sekaligus memperlihatkan bagaimana seni merespons keadaan sosial di sekitarnya.
Pestapora 2026 akhirnya ditutup setelah tiga hari penuh pertunjukan. Puluhan ribu penonton pulang dengan pengalaman masing-masing, mulai dari keseruan menyaksikan musisi favorit hingga berbagai pesan yang mereka temukan di antara gemerlap panggung.
Di satu sisi, Pestapora berhasil mempertahankan dirinya sebagai sebuah pesta musik dengan energi besar dan keragaman penampil. Di sisi lain, panggung-panggungnya juga menjadi tempat sejumlah kegelisahan sosial menemukan bentuknya melalui musik, visual, maupun pernyataan para musisi.
Pesta mungkin telah berakhir di Gambir Expo. Namun, pesan yang muncul dari sejumlah panggung menunjukkan bahwa musik tetap memiliki ruang untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hiburan.
Di tengah riuh tepuk tangan, lampu panggung, dan ribuan suara yang bernyanyi bersama, Pestapora 2026 memperlihatkan satu hal: sebuah pesta musik tetap dapat menjadi cermin dari zaman yang sedang dijalani masyarakatnya.