Nasional

Polisi Naik KRL untuk Gerebek Kampung Bahari, 1.800 Personel Dikerahkan dan 27 Orang Ditangkap

Fazlur Rahman 02 November 2026 3 penayangan

Aksi penggerebekan narkoba di kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (1/11/2026), berlangsung dengan strategi tak biasa. Untuk mengepung lokasi yang diduga menjadi pusat peredaran obat terlarang tersebut, polisi memanfaatkan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line sebagai salah satu jalur penyergapan agar personel dapat masuk secara serentak dari berbagai arah.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso membenarkan penggunaan KRL dalam operasi tersebut. Strategi ini dilakukan untuk mendukung pergerakan petugas menuju kawasan sasaran sekaligus mempersempit ruang gerak orang-orang yang diduga terlibat dalam aktivitas peredaran narkoba.

Operasi berskala besar itu melibatkan sekitar 1.800 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Korps Brimob. Banyaknya personel yang diterjunkan menunjukkan luasnya penyisiran yang dilakukan aparat di kawasan Kampung Bahari.

Dalam video yang diterima, sejumlah anggota kepolisian terlihat menaiki KRL dari Stasiun Tanjung Priok. Kereta tersebut kemudian berhenti di kawasan Kampung Bahari. Setelah tiba, para petugas turun dengan menggunakan tangga kayu sebelum bergerak menuju titik-titik yang telah ditentukan sebagai sasaran operasi.

Penggunaan KRL menjadi salah satu taktik untuk mendukung penyergapan dari sisi yang berbeda. Dengan pergerakan personel melalui jalur kereta, aparat berupaya menghindari pola kedatangan yang mudah terdeteksi dan memastikan pengepungan dapat dilakukan secara bersamaan.

Namun, proses penggerebekan tidak berjalan tanpa hambatan. Saat petugas memasuki kawasan tersebut, sejumlah orang dilaporkan melakukan perlawanan dengan melemparkan batu ke arah aparat. Situasi sempat memanas ketika polisi berupaya mengendalikan keadaan dan melanjutkan penyisiran.

Bismo menduga aksi pelemparan batu tersebut sengaja dilakukan untuk mengalihkan perhatian petugas. Menurutnya, tindakan itu diduga bertujuan memberikan kesempatan kepada bandar dan pengedar obat terlarang untuk melarikan diri ketika aparat tengah menghadapi perlawanan.

Dalam operasi tersebut, polisi mengamankan 27 orang yang diduga terlibat dalam perkara narkoba. Mereka selanjutnya dibawa untuk menjalani pemeriksaan guna mendalami peran masing-masing, termasuk kemungkinan keterlibatan dalam jaringan peredaran obat terlarang di kawasan tersebut.

Selain mengamankan sejumlah orang, petugas juga menyita berbagai barang bukti. Di antaranya obat-obatan terlarang, mesin pencetak obat terlarang, senjata api, senjata tajam, serta uang tunai. Temuan mesin pencetak obat menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan penyidikan karena dapat berkaitan dengan aktivitas produksi obat terlarang.

Polisi akan menelusuri asal-usul barang bukti tersebut serta mendalami kemungkinan adanya aktivitas produksi dan distribusi yang terorganisasi. Pemeriksaan terhadap orang-orang yang diamankan juga diharapkan dapat membantu mengungkap pihak-pihak yang memiliki peran lebih besar dalam jaringan tersebut.

Kepolisian memastikan operasi pemberantasan narkoba di Kampung Bahari belum berhenti. Aparat berencana melanjutkan penindakan untuk mengejar bandar narkoba yang masih buron sekaligus membongkar lapak-lapak yang diduga digunakan sebagai tempat transaksi maupun aktivitas peredaran obat terlarang.

Langkah lanjutan tersebut ditujukan untuk memutus jaringan peredaran narkoba hingga ke tingkat pemasok dan pengendali. Dengan demikian, operasi tidak hanya berakhir pada penangkapan orang-orang yang ditemukan di lokasi, tetapi juga diarahkan untuk mengungkap pihak yang diduga berada di balik aktivitas ilegal tersebut.

Topik

Memuat tag...