Nasional

Ridho Rahmadi Mundur dari Ketum Partai Ummat, Beban Rangkap Jabatan Jadi Alasan

Fazlur Rahman 04 September 2026 4 penayangan

Ridho Rahmadi resmi mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Partai Ummat. Keputusan tersebut diambil setelah Ridho menghadapi kesulitan membagi waktu antara menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan partai dan tugasnya sebagai Direktur Politeknik Artificial Intelligence BMD di Yogyakarta.

Selama sekitar satu tahun, Ridho harus menjalankan dua tanggung jawab sekaligus dengan mobilitas tinggi antara Yogyakarta dan Jakarta. Kondisi tersebut membuatnya harus membagi waktu secara ketat antara aktivitas di lingkungan pendidikan dan tugas politik sebagai Ketua Umum Partai Ummat.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Partai Ummat Ansufri Idrus Sambo mengatakan beban pekerjaan yang dijalani Ridho turut memengaruhi kondisi kesehatannya. Situasi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan Ridho untuk melepaskan jabatan sebagai ketua umum.

Keputusan tersebut, menurut Sambo, tidak diambil secara tiba-tiba. Ridho terlebih dahulu melakukan perenungan dan berkonsultasi dengan sejumlah pihak, termasuk tokoh senior Partai Ummat Amien Rais, keluarga, serta Sekretaris Majelis Syura.

Setelah melalui proses tersebut, Ridho akhirnya memilih mengundurkan diri dari posisi tertinggi di jajaran eksekutif partai. Pergantian kepemimpinan itu kemudian dipandang sebagai bagian dari proses estafet kepemimpinan di tubuh Partai Ummat.

Majelis Syura Partai Ummat secara resmi menerima pengunduran diri Ridho bersama Sekretaris Jenderal Taufik Hidayat dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8 yang berlangsung pada 26 Agustus 2026.

Dalam musyawarah tersebut, struktur kepemimpinan sementara partai turut mengalami perubahan. Ansufri Idrus Sambo ditunjuk sebagai Plt Ketua Umum Partai Ummat untuk menjalankan roda organisasi setelah Ridho meninggalkan jabatan tersebut.

Sementara itu, Muhammad Sadiq dipercaya sebagai Plt Sekretaris Jenderal. Pergantian sementara tersebut diperlukan agar aktivitas organisasi dan koordinasi internal Partai Ummat tetap berjalan setelah perubahan pada jajaran pimpinan.

Ridho sendiri tidak meninggalkan Partai Ummat. Setelah mengundurkan diri sebagai ketua umum, ia tetap aktif sebagai anggota Majelis Syura. Dengan posisi tersebut, Ridho masih memiliki peran dalam struktur organisasi partai meskipun tidak lagi memegang kendali langsung atas kepengurusan harian.

Adapun Taufik Hidayat yang sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal juga mendapatkan penugasan baru. Ia ditugaskan sebagai sekretaris eksekutif dalam struktur Partai Ummat.

Perubahan tersebut menandai babak baru bagi Partai Ummat di tengah dinamika organisasi. Pergantian pimpinan tidak hanya menyangkut perubahan nama di jajaran struktural, tetapi juga menjadi momentum bagi partai untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan dan agenda politiknya tidak terganggu.

Beban rangkap tanggung jawab yang dialami Ridho menjadi salah satu gambaran tantangan yang dihadapi seorang pimpinan partai ketika harus menjalankan tugas politik sekaligus tanggung jawab profesional di bidang lain. Mobilitas antara dua kota selama sekitar satu tahun membuat pengelolaan waktu menjadi persoalan tersendiri.

Posisi sebagai pimpinan partai membutuhkan perhatian terhadap berbagai urusan organisasi, mulai dari konsolidasi internal, komunikasi dengan kader, pengambilan keputusan, hingga koordinasi dengan struktur partai di berbagai daerah. Pada saat yang sama, tugas sebagai Direktur Politeknik Artificial Intelligence BMD di Yogyakarta juga menuntut tanggung jawab dalam mengelola institusi pendidikan.

Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika aktivitas keduanya harus dijalankan secara bersamaan. Menurut keterangan Sambo, beban pekerjaan itu turut berdampak terhadap kesehatan Ridho. Karena itu, keputusan untuk mengundurkan diri dipilih setelah mempertimbangkan kemampuan menjalankan kedua tanggung jawab secara optimal.

Ridho menggambarkan perubahan kepemimpinan tersebut sebagai bagian dari proses estafet dalam organisasi. Dengan tetap berada di Majelis Syura, perannya di Partai Ummat tidak sepenuhnya berakhir. Ia masih dapat berkontribusi dalam kapasitas yang berbeda dari sebelumnya.

Sementara itu, penunjukan Sambo sebagai Plt Ketua Umum memberikan ruang bagi organisasi untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan. Status pelaksana tugas memungkinkan aktivitas partai tetap berjalan sembari menunggu mekanisme selanjutnya sesuai aturan internal organisasi.

Penunjukan Muhammad Sadiq sebagai Plt Sekretaris Jenderal juga menjadi bagian dari langkah menjaga kesinambungan administrasi dan koordinasi partai. Struktur sementara tersebut diharapkan dapat memastikan tidak terjadi kekosongan dalam pengelolaan organisasi setelah pengunduran diri dua pimpinan sebelumnya.

Bagi Partai Ummat, perubahan kepemimpinan ini menjadi ujian tersendiri untuk menjaga soliditas internal. Pergantian pimpinan harus diikuti dengan konsolidasi agar kader dan struktur organisasi di berbagai tingkatan tetap memiliki arah yang sama.

Di sisi lain, keputusan Ridho memperlihatkan bahwa pergantian kepemimpinan dapat dilakukan melalui mekanisme internal organisasi. Pengunduran diri yang telah diterima Majelis Syura kemudian diikuti dengan penunjukan pelaksana tugas untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan.

Dengan tetap menjadi anggota Majelis Syura, Ridho masih memiliki ruang untuk memberikan kontribusi terhadap Partai Ummat. Namun, tanggung jawab operasional sehari-hari kini berada di tangan kepemimpinan sementara yang dipimpin Ansufri Idrus Sambo.

Pergantian tersebut sekaligus menempatkan Partai Ummat pada fase transisi. Fokus berikutnya adalah bagaimana kepemimpinan sementara dapat menjaga stabilitas organisasi, melanjutkan agenda partai, serta memastikan proses estafet kepemimpinan berlangsung secara tertib.

Pengunduran diri Ridho Rahmadi pada akhirnya bukan hanya soal pergantian jabatan, tetapi juga keputusan untuk menata kembali pembagian tanggung jawab di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin besar. Setelah sekitar satu tahun menjalankan dua peran dengan mobilitas Yogyakarta-Jakarta, Ridho memilih mengambil langkah yang dianggap lebih realistis dengan tetap berkontribusi melalui Majelis Syura.

Kini, Partai Ummat memasuki fase kepemimpinan baru dengan Ansufri Idrus Sambo sebagai Plt Ketua Umum dan Muhammad Sadiq sebagai Plt Sekretaris Jenderal. Sementara Ridho tetap berada dalam struktur partai sebagai anggota Majelis Syura, membawa pengalaman kepemimpinannya ke dalam babak baru perjalanan organisasi.

Topik

Memuat tag...