Sedang Siaran Langsung, Jurnalis Al-Manar Terluka akibat Serangan Drone Israel di Lebanon Selatan
Serangan drone Israel di Kota Nabatieh, Lebanon Selatan, kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi jurnalis ketika menjalankan tugas di tengah konflik. Dua jurnalis Al-Manar TV, Ali Chbib dan kameramen Mohammed Barjawi, terluka setelah serangan terjadi di lokasi yang berada dekat tempat mereka menjalankan peliputan.
Insiden tersebut berlangsung pada Minggu (6/9) sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Saat itu, Chbib dan Barjawi tengah berada di Nabatieh untuk meliput serangkaian serangan Israel di wilayah Lebanon Selatan. Mereka sedang mempersiapkan laporan langsung untuk buletin berita malam ketika sebuah drone menyerang area di sekitar mereka.
Momen serangan bahkan terjadi ketika Chbib tengah melakukan siaran langsung dari lokasi. Ledakan terdengar dari jarak dekat dan serpihan material beterbangan di sekitar posisi kedua jurnalis tersebut.
Akibat ledakan itu, Chbib dan Barjawi mengalami luka serta memar pada bagian tubuh mereka akibat terkena serpihan. Mereka kemudian mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Al-Manar melaporkan kondisi keduanya stabil setelah menjalani perawatan.
Laporan Committee to Protect Journalists (CPJ) juga menyebut kedua jurnalis mengalami luka pada anggota tubuh akibat serpihan yang beterbangan setelah sebuah drone menghantam area parkir di Nabatieh. CPJ menyatakan keduanya sedang bertugas meliput serangkaian serangan di Lebanon Selatan untuk pemberitaan malam.
Peristiwa tersebut menggambarkan bagaimana peliputan konflik di lapangan dapat berubah menjadi situasi yang membahayakan dalam hitungan detik. Jurnalis yang berada di lokasi serangan harus menghadapi ancaman bukan hanya dari sasaran serangan, tetapi juga dari serpihan dan dampak ledakan di sekitarnya.
Chbib sendiri diketahui merupakan salah satu koresponden Al-Manar yang secara rutin melaporkan perkembangan situasi di wilayah Nabatieh dan Lebanon Selatan. Bersama Barjawi, ia berada di lapangan untuk menyampaikan kondisi terbaru secara langsung kepada pemirsa ketika serangan terjadi.
Setelah mendapatkan perawatan, kondisi kedua jurnalis dilaporkan membaik dan mereka diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Al-Manar sebelumnya menyatakan bahwa keduanya hanya mengalami luka ringan dan menjalani pemeriksaan serta penanganan medis sebelum diperbolehkan pulang.
Insiden terhadap Chbib dan Barjawi terjadi ketika situasi keamanan di Lebanon Selatan kembali memanas. Dalam beberapa hari terakhir, serangkaian serangan Israel dilaporkan menghantam sejumlah wilayah di selatan Lebanon, termasuk kawasan Nabatieh dan daerah di sekitarnya.
Reuters melaporkan bahwa serangan Israel di Lebanon Selatan pada Minggu menewaskan sejumlah orang dan melukai lainnya, sementara ketegangan terus meningkat meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sejak Juni. Israel menyatakan operasi militernya ditujukan terhadap ancaman dan infrastruktur Hezbollah, sementara pemerintah Lebanon mengecam serangan tersebut.
Dalam situasi seperti itu, keberadaan jurnalis di wilayah konflik menjadi semakin berisiko. Mereka harus bergerak cepat untuk mendapatkan informasi sekaligus mengambil posisi yang memungkinkan peliputan berlangsung, sering kali di tengah suara ledakan dan aktivitas militer yang masih berlangsung.
Kondisi tersebut juga kembali memperlihatkan pentingnya perlindungan terhadap pekerja media di wilayah konflik. CPJ menyebut setidaknya empat jurnalis terluka dalam eskalasi terbaru di Lebanon dan Gaza, menunjukkan bahwa lingkungan kerja wartawan di kedua wilayah tersebut menjadi semakin berbahaya.
Bagi Chbib dan Barjawi, tugas peliputan pada malam itu berakhir dengan perawatan di rumah sakit. Meski luka yang dialami dilaporkan ringan dan kondisi mereka stabil, insiden tersebut menunjukkan betapa tipis jarak antara menjalankan tugas jurnalistik dan menjadi korban dalam konflik bersenjata.
Serangan yang terjadi di dekat lokasi kerja kedua jurnalis juga menjadi pengingat bahwa situasi keamanan di Lebanon Selatan masih sangat rapuh. Bagi masyarakat dan pekerja media yang berada di wilayah tersebut, ancaman dapat muncul sewaktu-waktu tanpa banyak peringatan.
Setelah mendapat perawatan, Chbib dan Barjawi dilaporkan telah diperbolehkan pulang. Namun, insiden yang mereka alami menambah daftar jurnalis yang terluka saat menjalankan tugas di tengah eskalasi konflik, sekaligus memperlihatkan risiko nyata yang dihadapi media ketika berusaha menghadirkan laporan langsung dari wilayah peperangan.