Berita International

Asap Karhutla Kalimantan Menyeberang ke Filipina, Sekolah di Quezon City Terpaksa Hentikan Kegiatan Belajar

Fazlur Rahman 04 September 2026 2 penayangan

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai menimbulkan dampak lintas negara. Asap dan haze yang berasal dari kebakaran di wilayah Kalimantan dilaporkan terbawa hingga Filipina, menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk dan memaksa otoritas Quezon City, Metro Manila, mengambil langkah untuk menghentikan kegiatan belajar tatap muka di sekolah-sekolah negeri.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena polusi udara tidak lagi hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar titik kebakaran di Indonesia. Partikel asap yang terbawa angin dapat bergerak melintasi wilayah geografis dan memengaruhi kualitas udara di negara lain, termasuk Filipina.

Di Quezon City, seluruh kegiatan belajar tatap muka di sekolah negeri dihentikan pada Selasa, 1 September 2026. Keputusan tersebut diambil setelah jaringan pemantauan kualitas udara di kota tersebut mencatat kondisi yang berada pada kategori “sangat tidak sehat” hingga “sangat tidak sehat akut”.

Penangguhan tersebut berlaku untuk berbagai jenjang pendidikan negeri, mulai dari pusat pengembangan anak, taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga sekolah menengah, serta program Alternative Learning System. Untuk sekolah swasta dan perguruan tinggi, keputusan mengenai penghentian kegiatan tatap muka diserahkan kepada masing-masing pengelola.

Pemerintah Kota Quezon City menyatakan memburuknya kualitas udara kemungkinan berkaitan dengan asap dan kabut yang bergerak dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia. Asap tersebut terbawa oleh pola angin sehingga mencapai wilayah Filipina dan memengaruhi kualitas udara di Metro Manila serta sejumlah daerah lainnya.

Bagi otoritas setempat, kondisi tersebut tidak dapat dianggap sebagai persoalan udara biasa. Paparan polusi pada tingkat sangat tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Gejala yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi saluran pernapasan, serta kesulitan bernapas.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Warga yang harus bepergian juga dianjurkan menggunakan masker medis sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang tercemar. Pemerintah kota turut meminta masyarakat memantau perkembangan kualitas udara dan pengumuman resmi berikutnya.

Dampak tersebut menunjukkan bagaimana karhutla di Indonesia dapat berkembang menjadi persoalan lingkungan regional. Ketika kebakaran menghasilkan asap dalam jumlah besar, partikel polutan dapat terbawa oleh angin dalam jarak yang jauh. Dalam kondisi meteorologis tertentu, kabut asap bahkan dapat mencapai wilayah negara tetangga.

Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina melalui Environmental Management Bureau (DENR-EMB) sebelumnya menyebut kondisi haze di sejumlah wilayah Filipina kemungkinan berkaitan dengan asap kebakaran di Indonesia yang terbawa angin. Sejumlah kota dilaporkan mengalami kualitas udara yang masuk kategori sangat tidak sehat, bahkan terdapat wilayah yang masuk kategori sangat tidak sehat akut.

Fenomena tersebut terjadi ketika Indonesia tengah menghadapi musim kebakaran yang cukup serius. Kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, sementara pemerintah Indonesia terus meningkatkan operasi pemadaman dan pencegahan agar api tidak meluas.

Data yang disampaikan pemerintah Indonesia menunjukkan skala penanganan karhutla yang besar. Puluhan ribu personel dikerahkan bersama lebih dari 1.400 relawan untuk membantu operasi di darat. Pemerintah juga mengoperasikan puluhan pesawat untuk melakukan water bombing di wilayah yang mengalami kebakaran.

Namun, operasi pemadaman dari udara juga menghadapi tantangan. Asap pekat dan jarak pandang yang buruk dapat menghambat penerbangan pesawat pemadam. Ketersediaan sumber air di sekitar lokasi kebakaran juga menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan dalam operasi water bombing.

Besarnya jumlah asap yang dilepaskan dari kebakaran kemudian membuat dampaknya tidak berhenti di dalam wilayah Indonesia. Ketika kondisi angin memungkinkan, polutan dapat berpindah lintas batas dan menimbulkan persoalan baru di negara lain.

Bagi Filipina, munculnya kabut asap dari Indonesia menjadi persoalan yang harus segera diantisipasi karena menyangkut kesehatan masyarakat. Sekolah menjadi salah satu sektor yang terdampak karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan ketika kualitas udara memburuk.

Penghentian kegiatan belajar tatap muka di Quezon City menjadi contoh nyata bagaimana persoalan lingkungan di satu negara dapat memengaruhi aktivitas masyarakat di negara lain. Sebuah kebakaran yang terjadi ribuan kilometer dari Manila pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan pemerintah kota, aktivitas sekolah, serta rutinitas masyarakat Filipina.

Persoalan ini juga memperlihatkan pentingnya pemantauan kualitas udara dan pergerakan asap secara regional. Informasi mengenai arah angin, konsentrasi polutan, serta perkembangan titik api menjadi penting untuk menentukan langkah mitigasi, terutama bagi wilayah yang berada di jalur pergerakan asap.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Filipina diminta mengurangi paparan udara luar ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas fisik di ruang terbuka perlu dibatasi, sementara warga yang harus keluar rumah dianjurkan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai.

Bagi Indonesia, kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla memiliki konsekuensi yang dapat melampaui batas administratif dan bahkan batas negara. Setiap kebakaran besar berpotensi menghasilkan dampak terhadap kesehatan, lingkungan, transportasi, dan aktivitas ekonomi, baik di wilayah yang terbakar maupun kawasan yang terkena pergerakan asap.

Kabut asap yang kini mencapai Filipina memperlihatkan bahwa karhutla bukan semata persoalan lokal. Ketika asap bergerak melintasi perbatasan, dampaknya berubah menjadi persoalan bersama yang membutuhkan pemantauan dan koordinasi antarnegara.

Sementara masyarakat Quezon City harus beradaptasi dengan kualitas udara yang memburuk, upaya di Indonesia untuk mengendalikan titik-titik kebakaran terus menjadi perhatian. Semakin cepat kebakaran dapat dikendalikan dan sumber asap berkurang, semakin besar pula peluang kualitas udara di kawasan terdampak untuk kembali membaik.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bahwa asap kebakaran tidak mengenal batas negara. Api yang berkobar di hutan dan lahan Kalimantan pada akhirnya dapat membawa konsekuensi hingga ke ruang kelas di Filipina—menjadikan persoalan karhutla Indonesia bukan lagi sekadar isu lingkungan domestik, tetapi masalah regional yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Topik

Memuat tag...