Keuangan

Influencer Kripto Kehilangan 189 SOL Senilai Rp228 Juta Usai Meminjamkan Ponsel di Beach Club Bali

Devi Sry Atmaja 26 Juli 2026 2 penayangan

Denpasar, Bali – Seorang influencer dan trader kripto dilaporkan kehilangan 189 token Solana (SOL) yang bernilai sekitar Rp228 juta setelah meminjamkan ponselnya kepada orang yang baru dikenal di salah satu beach club di Bali. Aset tersebut hilang dalam hitungan detik tanpa sepengetahuannya, dan hingga kini belum dapat dikembalikan.

Kronologi kejadian bermula ketika korban berada di beach club bersama sejumlah teman. Setelah teman-temannya meninggalkan lokasi, korban tetap tinggal dan berinteraksi dengan sekelompok perempuan yang mengaku berasal dari Australia. Suasana semakin akrab setelah beberapa putaran minuman. Salah satu perempuan kemudian meminta untuk saling menambahkan akun Instagram. Korban menyerahkan ponselnya yang masih dalam keadaan terbuka (unlocked).

Menurut pengakuan korban di media sosial, ponsel tersebut ditahan lebih lama dari biasanya. Sementara itu, anggota kelompok lainnya diduga mengalihkan perhatiannya. Tidak lama kemudian, kelompok perempuan tersebut mengaku ingin ke toilet dan meninggalkan tempat. Saat korban memeriksa kembali ponselnya, ia menemukan bahwa 189 SOL di dompet Phantom miliknya telah ditransfer ke alamat dompet yang tidak dikenal.

Kecepatan jaringan Solana yang memproses transaksi dalam hitungan detik membuat dana tersebut langsung hilang dan sulit untuk dibatalkan. Korban kemudian menghubungi pihak berwenang. Polisi dan aparat keamanan berpakaian sipil diduga melakukan penyisiran di sekitar area pantai dan berhasil mengamankan sejumlah terduga pelaku yang terlibat dalam kejadian tersebut.

Hingga laporan ini dibuat, aset kripto milik korban belum berhasil dikembalikan. Para terduga pelaku dilaporkan menghadapi proses hukum lebih lanjut, termasuk kemungkinan tuntutan pidana dan deportasi.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pengguna aset kripto, khususnya mereka yang menyimpan dompet digital (hot wallet) di ponsel. Banyak pihak menyoroti pentingnya menjaga keamanan dasar, seperti mengunci ponsel dengan Face ID atau PIN, mengaktifkan proteksi tambahan pada aplikasi dompet kripto, serta tidak pernah menyerahkan perangkat yang masih terbuka kepada orang asing, meski dalam situasi sosial yang terlihat aman.

Insiden di Bali ini cepat viral di media sosial, terutama di platform X, dan memicu diskusi luas tentang risiko keamanan aset digital di tengah aktivitas rekreasi. Para ahli keamanan siber kembali menekankan bahwa ancaman tidak selalu datang dari peretas daring, tetapi juga dari kelengahan fisik di dunia nyata.

Polisi setempat masih terus mendalami kasus ini. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memprioritaskan keamanan aset digital mereka kapan pun dan di mana pun.

Topik

Memuat tag...