Nasional

Karhutla Gunung Ciremai Meluas hingga Majalengka, 60 Hektare Lahan Terbakar, Tim Gabungan Berjuang Kendalikan Api

Devi Sry Atmaja 26 Oktober 2026 2 penayangan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sejak Rabu malam (21/10/2026). Hingga Kamis (22/10/2026), luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 60 hektare. Kobaran api dilaporkan telah merembet hingga wilayah Kabupaten Majalengka, sehingga upaya penanganan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan lainnya. Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan kawasan konservasi yang memiliki fungsi penting bagi kelestarian lingkungan. Kebakaran di kawasan ini tidak hanya mengancam vegetasi hutan, tetapi juga berpotensi mengganggu habitat satwa liar dan keseimbangan ekosistem. Meluasnya titik kebakaran membuat upaya pemadaman menjadi semakin mendesak, terutama di tengah kondisi medan yang sulit dijangkau.

Api mulai dilaporkan membakar kawasan Gunung Ciremai pada Rabu malam. Dalam perkembangannya hingga Kamis, luasan lahan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 60 hektare. Angka tersebut menjadi gambaran besarnya area yang perlu ditangani oleh petugas di lapangan, meskipun luas akhir kebakaran masih dapat berubah sesuai hasil pemantauan dan pendataan lebih lanjut. Kebakaran yang merembet hingga wilayah Kabupaten Majalengka juga menambah tantangan dalam proses pengendalian api. Wilayah Gunung Ciremai mencakup kawasan pegunungan dengan kondisi geografis yang tidak mudah dilalui. Pergerakan api di area berhutan dan medan yang terjal membuat petugas harus menentukan strategi penanganan dengan mempertimbangkan keselamatan personel serta kondisi lapangan.

Tim gabungan terus berupaya melokalisasi kobaran api agar tidak semakin meluas. Upaya ini dilakukan dengan memusatkan penanganan pada area terdampak dan berusaha membatasi perambatan api menuju bagian hutan lainnya. Namun, proses pengendalian menghadapi sejumlah kendala, mulai dari medan terjal hingga keterbatasan peralatan yang tersedia di lokasi kebakaran. Akses menuju titik api menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pemadaman. Kondisi jalur yang sulit dijangkau dapat memperlambat mobilisasi personel dan perlengkapan menuju lokasi. Situasi tersebut membuat penanganan karhutla di kawasan pegunungan membutuhkan koordinasi yang cermat serta pemilihan jalur yang memungkinkan petugas bekerja secara efektif tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Selain kendala akses, keterbatasan peralatan turut menjadi tantangan bagi tim gabungan. Penanganan kebakaran hutan di medan terjal membutuhkan perlengkapan yang sesuai dengan karakteristik lokasi dan kondisi api. Karena itu, upaya pemadaman tidak hanya bergantung pada jumlah personel, tetapi juga pada ketersediaan sarana pendukung dan kemampuan petugas menjangkau titik-titik yang terbakar. Meluasnya kebakaran di kawasan konservasi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak ekologis yang mungkin terjadi. Vegetasi yang terbakar dapat memengaruhi fungsi hutan sebagai habitat satwa, penyimpan karbon, dan kawasan penyangga tata air. Besarnya dampak terhadap lingkungan akan bergantung pada tingkat kerusakan vegetasi, kedalaman kebakaran, serta luas area yang akhirnya terdampak.

Kondisi medan yang terjal membuat pengendalian api harus dilakukan dengan memperhitungkan arah rambatan kebakaran dan perubahan situasi di lapangan. Tim gabungan perlu terus memantau perkembangan api untuk menentukan area yang harus diprioritaskan. Pada saat yang sama, keselamatan petugas menjadi hal penting, terutama ketika mereka harus bekerja di kawasan yang sulit dijangkau dan memiliki risiko pergerakan api yang tidak menentu. Kebakaran hutan dan lahan juga menjadi pengingat pentingnya pengawasan kawasan konservasi, terutama ketika kondisi lingkungan meningkatkan risiko munculnya api. Pemantauan titik rawan, kesiapan personel, serta dukungan peralatan pemadaman menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi dampak kebakaran. Penanganan sejak tahap awal dapat membantu membatasi penyebaran api sebelum menjangkau area yang lebih luas.

Masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Ciremai diharapkan mengikuti informasi dan arahan dari petugas berwenang. Warga juga perlu menghindari lokasi kebakaran serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api di kawasan hutan. Apabila menemukan titik api atau kepulan asap, masyarakat sebaiknya segera melaporkannya kepada petugas agar dapat ditindaklanjuti.

Topik

Memuat tag...