Nasional

Kasus Dugaan Keracunan MBG Capai 2.886 Korban Sejak Sudaryono Pimpin BGN

Devi Sry Atmaja 03 September 2026 5 penayangan

JAKARTA

Bahkan, pada hari pertama Sudaryono menjalankan tugas sebagai Kepala BGN, ia sudah dihadapkan dengan kasus dugaan keracunan yang diduga berkaitan dengan makanan dalam program MBG. Setelah itu, laporan serupa kembali muncul di sejumlah daerah dengan jumlah korban yang tidak sedikit.

Kasus terbaru terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 566 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hakim diduga mengalami keracunan pada Selasa (1/9/2026). Para santri tersebut merupakan penerima makanan dari program MBG yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah. Meski demikian, hingga kini belum dapat dipastikan bahwa makanan MBG merupakan penyebab pasti dari gangguan kesehatan yang dialami para santri. Pemeriksaan dan penelusuran masih diperlukan untuk mengetahui sumber kejadian tersebut, termasuk memastikan kondisi makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat.

Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, yang menjadi pihak penyalur makanan MBG dalam kasus tersebut telah menyampaikan permintaan maaf. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah proses penelusuran untuk mengetahui penyebab pasti kejadian yang menimpa ratusan santri tersebut.

Kasus di Sidoarjo menjadi perhatian karena jumlah korbannya mencapai ratusan orang dalam satu kejadian. Selain menjadi persoalan kesehatan, peristiwa tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG yang menjangkau masyarakat dalam jumlah besar.

Total korban dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program MBG di berbagai daerah sejak Sudaryono menjabat sebagai Kepala BGN mencapai 2.886 orang. Jumlah tersebut dihimpun dari 12 kasus dugaan keracunan yang terjadi dalam rentang waktu 22 Juli hingga 1 September 2026. Angka 2.886 korban tersebut merupakan akumulasi dari sejumlah kejadian yang dilaporkan selama periode tersebut. Namun, penting dicatat bahwa seluruh kejadian tersebut masih berada dalam kategori dugaan keracunan yang berkaitan dengan MBG. Artinya, angka tersebut tidak secara otomatis membuktikan bahwa makanan MBG menjadi penyebab utama setiap kasus.

Penentuan penyebab keracunan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang. Faktor lain seperti proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga kondisi makanan ketika dikonsumsi juga perlu ditelusuri untuk mendapatkan kesimpulan yang akurat. Munculnya kasus secara berulang membuat aspek keamanan pangan menjadi salah satu tantangan penting dalam pelaksanaan program MBG. Dengan jumlah penerima manfaat yang besar, setiap tahapan penyediaan makanan harus mendapat pengawasan agar kualitas dan keamanan makanan tetap terjaga hingga diterima dan dikonsumsi masyarakat.

Kasus dugaan keracunan yang melibatkan 566 santri di Sidoarjo sekaligus menjadi ujian bagi BGN di bawah kepemimpinan Sudaryono. Terlebih, kasus tersebut terjadi hanya sekitar satu bulan lebih setelah dirinya dilantik sebagai Kepala BGN dan menjadi bagian dari rangkaian 12 kasus dugaan keracunan dengan total 2.886 korban.

BGN bersama pemerintah daerah dan pihak terkait perlu memastikan penyebab setiap kejadian dapat ditelusuri secara menyeluruh. Evaluasi terhadap proses pengadaan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi juga menjadi penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

Topik

Memuat tag...