Nasional

Netanyahu Balas Kritik Obama soal Tanah Palestina: “Kami Bukan Belanda Di Indonesia”

Fazlur Rahman 22 Oktober 2026 2 penayangan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons kritik mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang menyoroti penguasaan tanah Palestina oleh Israel. Netanyahu menolak anggapan bahwa bangsa Yahudi merupakan penjajah asing di wilayah tersebut dan menegaskan bahwa tanah yang ia sebut sebagai tanah leluhur memiliki ikatan sejarah panjang dengan bangsa Yahudi.

Pernyataan Netanyahu disampaikan melalui sebuah video yang diunggah ke akun media sosial X pada Jumat (16/10/2026). Respons tersebut muncul beberapa hari setelah Obama mengomentari sejarah hubungan Israel dan Palestina dalam sebuah percakapan dengan jurnalis Susan McKay di Belfast, Irlandia Utara.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menilai komentar Obama sebagai pernyataan yang disesalkan. Ia menegaskan bahwa sejarah bangsa Yahudi tidak dapat disamakan dengan kolonialisme yang dilakukan negara-negara Eropa di berbagai belahan dunia.

“Kami bukan Belanda di Indonesia. Kami bukan Belgia di Kongo. Kami adalah orang-orang Yahudi di Yudea,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya.

Netanyahu juga menyatakan bahwa bangsa Yahudi bukanlah penjajah asing di tanah leluhur mereka. Ia merujuk pada Yudea, nama historis yang berkaitan dengan wilayah tersebut, sebagai bagian dari argumentasinya mengenai hubungan sejarah bangsa Yahudi dengan tanah yang kini menjadi bagian dari Israel dan wilayah Palestina.

Menurut Netanyahu, keterikatan bangsa Yahudi terhadap wilayah tersebut telah berlangsung selama ribuan tahun. Ia menolak anggapan bahwa sejarah Israel merupakan proyek kolonial dan menegaskan bahwa tanah itu merupakan tanah air bangsa Yahudi.

Dalam pernyataan yang sama, Netanyahu juga menyebut bahwa hambatan utama menuju perdamaian bukanlah Israel, melainkan pihak-pihak yang menolak mengakui hak bangsa Yahudi untuk memiliki negara sendiri. Ia menekankan bahwa Israel tidak akan mempertaruhkan keberlangsungan negaranya demi memenuhi tuntutan pihak yang dianggap menolak keberadaan Israel.

Pernyataan tersebut menjadi tanggapan langsung terhadap pandangan Obama mengenai sejarah perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina. Mantan presiden AS itu sebelumnya menyoroti bagaimana pembentukan dan perluasan kekuasaan Israel berdampak terhadap masyarakat Palestina yang kehilangan tanah dan merasa mengalami ketidakadilan.

Dalam percakapannya di Belfast, Obama mengakui bahwa bangsa Yahudi telah mengalami penindasan, diskriminasi, dan pembunuhan selama berabad-abad, terutama di Eropa. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan bangsa Yahudi mencari tempat berlindung yang aman.

Namun, Obama juga menyoroti konsekuensi yang dialami rakyat Palestina ketika mereka kehilangan tanah dan menghadapi perubahan kekuasaan di wilayah tempat mereka tinggal. Ia menggambarkan perasaan masyarakat Palestina sebagai respons yang dapat dipahami terhadap apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan.

Obama memperingatkan bahwa keunggulan militer dan teknologi tidak otomatis menjamin keamanan Israel dalam jangka panjang. Menurutnya, jika keamanan hanya didasarkan pada kemampuan menggunakan kekuatan dan mengambil tindakan sepihak, Israel berisiko kehilangan pijakan moral serta mempersempit peluang tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.

Ia juga menekankan bahwa jutaan warga Israel dan Palestina sama-sama memiliki masa depan di kawasan tersebut. Karena itu, kedua masyarakat perlu mencari cara agar dapat hidup berdampingan melalui pengaturan yang adil, tanpa terus bergantung pada kekuatan militer untuk menyelesaikan konflik.

Obama turut mengingatkan bahwa perjuangan rakyat Palestina tidak akan mencapai penyelesaian hanya melalui keunggulan persenjataan. Ia mendorong pencarian strategi lain, termasuk pendekatan nonkekerasan, untuk memperjuangkan perubahan politik.

Perbedaan pernyataan kedua tokoh tersebut kembali menyoroti persoalan mendasar dalam konflik Israel-Palestina: bagaimana mengakui hubungan historis bangsa Yahudi dengan wilayah tersebut sekaligus menjawab tuntutan rakyat Palestina atas tanah, hak menentukan nasib sendiri, dan kehidupan yang aman.

Bagi Netanyahu, keterikatan historis bangsa Yahudi menjadi landasan untuk menolak penyebutan Israel sebagai proyek kolonial. Sementara itu, Obama menekankan dampak historis dan politik yang dialami rakyat Palestina serta pentingnya mempertimbangkan keadilan dan hak kedua masyarakat dalam mencari jalan keluar dari konflik.

Perdebatan mengenai sejarah dan klaim atas tanah tersebut berlangsung di tengah konflik berkepanjangan yang melibatkan persoalan wilayah, keamanan, kedaulatan, dan hak-hak masyarakat. Pernyataan kedua tokoh mencerminkan perbedaan pendekatan dalam memandang akar konflik dan syarat-syarat yang diperlukan untuk mencapai perdamaian.

Hingga pernyataan itu disampaikan, pertukaran pandangan Netanyahu dan Obama belum disertai pengumuman mengenai inisiatif diplomatik baru. Namun, perdebatan tersebut kembali menegaskan bahwa penyelesaian konflik Israel-Palestina tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menyangkut pengakuan terhadap hak, sejarah, dan masa depan kedua masyarakat di kawasan tersebut.

Topik

Memuat tag...