Serangan Drone Terbesar Ukraina ke Moskow: Ibukota Rusia Digempur, Bandara Lumpuh
Dalam seminggu terakhir, Ukraina melancarkan serangan drone skala besar terhadap wilayah Moskow, yang disebut sebagai yang terbesar sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina lebih dari empat tahun lalu. Otoritas Rusia melaporkan hampir 200 drone Ukraina menargetkan area sekitar ibu kota, sementara ratusan drone lainnya berhasil dicegat.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, dalam 24 jam terakhir, pasukan pertahanan udara mereka mencegat hampir 1.000 drone Ukraina serta empat rudal jelajah di berbagai lokasi di Rusia. Meski demikian, beberapa drone berhasil menembus pertahanan dan menghantam target penting, termasuk kilang minyak Gazprom Neft di distrik Kapotnya, Moskow.
Serangan tersebut memicu kebakaran hebat di kilang minyak yang memasok sekitar setengah kebutuhan diesel dan 40 persen bensin serta avtur untuk wilayah Moskow. Asap hitam tebal mengepul ke langit ibu kota, dan warga melaporkan hujan hitam berupa partikel minyak yang jatuh di beberapa area. Bandara-bandara utama di Moskow, termasuk Domodedovo, Sheremetyevo, dan Vnukovo, terpaksa menghentikan operasional penerbangan selama beberapa jam, menyebabkan ratusan penerbangan tertunda atau dibatalkan.
Gubernur wilayah Moskow, Andrei Vorobyov, melaporkan sedikitnya 17 orang terluka, termasuk anak-anak, akibat serangan ini. Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada gedung apartemen, fasilitas industri, dan rumah warga di sekitar ibu kota. Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin menyebut serangan itu sebagai “masif” dan mengonfirmasi adanya dampak pada infrastruktur.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa serangan drone besar-besaran ini merupakan respons langsung terhadap serangan Rusia ke Kyiv pekan lalu. Serangan Rusia sebelumnya telah membakar Katedral Dormition di kompleks Kyiv-Pechersk Lavra, salah satu situs keagamaan dan sejarah paling penting di Ukraina yang berusia lebih dari 1.000 tahun dan termasuk dalam situs Warisan Dunia UNESCO.
Zelensky menyebut serangan Rusia terhadap situs keagamaan itu sebagai “kejahatan serius terhadap budaya Kristen” dan “serangan terhadap sejarah” Ukraina. Ia menegaskan bahwa Ukraina akan terus menggunakan “sanksi jarak jauh” – istilah yang digunakan Kyiv untuk menyebut serangan jarak jauh dengan drone – sebagai bentuk pertahanan dan balasan.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait serangan terbaru ini. Kremlin sebelumnya sering kali meremehkan dampak serangan Ukraina sambil menjanjikan respons yang lebih keras.
Serangan ini menandai eskalasi signifikan dalam strategi Ukraina untuk membawa perang ke wilayah Rusia, khususnya menargetkan infrastruktur energi yang vital. Kilang minyak Kapotnya yang diserang untuk kedua kalinya dalam waktu singkat merupakan fasilitas strategis yang mendukung pasokan bahan bakar Moskow.
Analis mencatat bahwa kemampuan drone Ukraina semakin canggih, memungkinkan mereka menembus pertahanan udara Rusia yang selama ini dianggap kuat di sekitar ibu kota. Namun, serangan ini juga memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut, termasuk potensi respons balasan Rusia yang lebih masif.
Perang yang telah berlangsung sejak 2022 ini terus menelan korban dan kerusakan di kedua belah pihak. Sementara Rusia melaporkan keberhasilan intersepsi massal, Ukraina menunjukkan tekadnya untuk tidak hanya bertahan tetapi juga menyerang balik di jantung kekuasaan musuh.
Situasi di Moskow dan sekitarnya masih tegang, dengan otoritas setempat terus membersihkan puing-puing dan memulihkan infrastruktur. Perkembangan lebih lanjut akan terus dipantau seiring dinamika konflik yang semakin memanas.