Dugaan Keracunan MBG di Batang, Korban dari Bayi 10 Bulan hingga Lansia
BATANG - Insiden dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus meluas. Ratusan warga dari berbagai kelompok usia dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan program tersebut. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan korban berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari bayi berusia 10 bulan hingga lanjut usia. Tak hanya penerima manfaat, relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas dalam penyediaan makanan juga dilaporkan mengalami keluhan setelah mencicipi hidangan.
Gejala yang dialami para korban antara lain mual, muntah, diare, dan tubuh terasa lemas. Warga yang mengalami keluhan kemudian mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan yang telah disiagakan Pemerintah Kabupaten Batang. Hingga Kamis (24/9/2026) pukul 03.00 WIB, sebanyak 276 orang tercatat menjalani perawatan. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah hingga sekitar 300 pasien pada Kamis pagi seiring adanya warga lain yang datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Para korban tersebar di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, di antaranya RSUD Kalisari, RSUD Limpung, serta beberapa puskesmas di wilayah Kabupaten Batang. Lonjakan jumlah pasien membuat kapasitas ruang perawatan di rumah sakit mengalami tekanan. Sebagian pasien bahkan harus mendapatkan perawatan di lorong rumah sakit karena ruang yang tersedia tidak mampu menampung seluruh korban dalam waktu bersamaan. Tenaga medis dikerahkan untuk memastikan seluruh pasien tetap memperoleh pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Pemerintah Kabupaten Batang memastikan seluruh fasilitas kesehatan terkait telah disiagakan untuk menangani para korban. Selain tenaga medis, ambulans juga dipersiapkan untuk mendukung proses evakuasi maupun mobilisasi pasien apabila diperlukan. Faiz memastikan hingga saat ini tidak terdapat korban yang meninggal dunia akibat insiden tersebut. Pemerintah daerah juga menyatakan akan menanggung biaya pengobatan seluruh korban yang terdampak dugaan keracunan MBG.
“Tidak ada korban meninggal dunia dan seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung pemerintah daerah,” kata Faiz.
Di tengah bertambahnya jumlah korban, pemerintah masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala keracunan. Sampel makanan maupun bahan terkait akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah terdapat kandungan atau kontaminasi tertentu yang menyebabkan warga mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan. Investigasi juga dilakukan terhadap SPPG yang menyediakan makanan MBG. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menelusuri seluruh proses, mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Pemerintah memastikan proses investigasi dilakukan untuk menemukan sumber persoalan sekaligus mengevaluasi penerapan standar keamanan pangan. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan penyebab insiden tersebut.
Kasus dugaan keracunan ini menjadi perhatian karena melibatkan ratusan orang dari berbagai kelompok usia. Pemerintah daerah bersama fasilitas kesehatan dan pihak terkait masih melakukan penanganan terhadap pasien sekaligus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian.