Nasional

Kepala BGN Sudaryono Soroti Kegaduhan MBG, Sebut Guru hingga Oknum LSM Ikut Perkeruh Suasana

Devi Sry Atmaja 17 September 2026 2 penayangan

JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menilai kegaduhan terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di media sosial dipengaruhi oleh narasi ideologis dan politis. Penilaian tersebut disampaikan pada Senin, 14 September 2026, di tengah meningkatnya perbincangan publik mengenai program tersebut. Ia menekankan bahwa berbagai pihak turut berperan dalam memperkeruh suasana di ruang publik. Sudaryono menyebut sejumlah elemen yang menurutnya aktif menyebarkan kegaduhan. Ia menyinggung peran guru, orang tua siswa, wartawan, hingga oknum lembaga swadaya masyarakat. Menurutnya, keterlibatan mereka tidak lepas dari muatan ideologis dan politis yang memengaruhi cara isu tersebut dibahas.

“Yang ramein gurunya, yang ramein orang tua siswanya, yang ramein adalah wartawannya, yang ramein adalah orang-orang oknum LSM dan lain sebagainya, itu ideologis politis,” tegas Sudaryono. Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena secara langsung menunjuk berbagai kelompok yang dinilai memperbesar polemik di media sosial.

Selain kritik yang datang dari luar, Sudaryono juga membeberkan dinamika internal di tubuh Badan Gizi Nasional. Ia mengungkapkan bahwa sebagian petugas di lingkungannya sendiri mengeluh di media sosial ketika dikenai sanksi penertiban. Keluhan tersebut dinilai menambah citra negatif terhadap program MBG.

“Pasukan saya sendiri, itu berkeluh kesah di sosmed. Menambah negatif dari MBG. Tapi saya enggak peduli, karena disiplin memang harus ditegakkan,” lanjut Sudaryono. Ia menegaskan bahwa penegakan disiplin tetap menjadi prioritas meski menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan internal.

Meski dihantam narasi negatif dari berbagai arah, Badan Gizi Nasional menegaskan komitmen untuk menjaga standar kebersihan dan keselamatan pangan secara ketat. Standar tersebut diterapkan melalui mekanisme sanksi yang tegas. Sudaryono memastikan tidak ada kompromi dalam menjaga kualitas pelaksanaan program. Ia menyatakan bahwa tindakan tegas berupa pemberhentian tetap akan diberlakukan bagi personel yang tidak kompeten. Hal yang sama berlaku bagi pengelola dapur yang menyebabkan terjadinya insiden keracunan. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis.

“Orang-orang yang tidak kompeten, orang-orang yang enggak punya niat untuk kerja benar, saya amputasi semua. Semua SPPG Kepala Dapur yang menyebabkan keracunan tidak boleh diperpanjang P3K-nya,” ujar Sudaryono. Ia menggunakan istilah tegas untuk menggambarkan konsekuensi bagi pihak yang dinilai lalai atau tidak berkomitmen.

Sudaryono menekankan bahwa program akan terus berjalan tanpa bergantung pada dukungan individu tertentu. Ia menyampaikan keyakinan bahwa pelaksanaan MBG tidak akan terhenti meski menghadapi tantangan dari dalam maupun luar. Komitmen tersebut disampaikan dengan nada yang tegas.

“With or without you, ini jalan terus. Semua orang ninggalin saya, saya jalan terus,” pungkasnya. Pernyataan penutup tersebut mencerminkan sikap yang tidak goyah terhadap kelangsungan program di tengah berbagai kritik dan polemik yang muncul.

Kegaduhan di media sosial terkait MBG menjadi perhatian serius bagi Kepala BGN. Ia menilai bahwa narasi yang berkembang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, muatan ideologis dan politis memperbesar skala perbincangan yang ada. Penegakan disiplin di internal BGN menjadi salah satu fokus yang ia sampaikan secara terbuka. Keluhan petugas di media sosial dinilai kontraproduktif terhadap citra program. Namun, Sudaryono memilih untuk tetap menjalankan sanksi demi menjaga standar operasional. Standar kebersihan dan keselamatan pangan ditempatkan sebagai prioritas utama. Insiden keracunan yang melibatkan pengelola dapur akan berujung pada tidak diperpanjangnya kontrak kerja. Langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Sikap tegas Sudaryono terhadap personel yang tidak kompeten menunjukkan pendekatan yang berorientasi pada hasil. Ia tidak segan mengambil keputusan sulit demi menjaga kualitas program. Komitmen tersebut disampaikan di tengah tekanan publik yang cukup tinggi. Secara keseluruhan, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyoroti kegaduhan Program Makan Bergizi Gratis yang menurutnya dipengaruhi narasi ideologis dan politis dari guru, orang tua, wartawan, hingga oknum LSM. Ia juga menegaskan penegakan disiplin internal serta komitmen untuk terus menjalankan program dengan standar ketat tanpa kompromi.

Topik

Memuat tag...