Nasional

Ratusan Santri Dijemput Orang Tua Usai Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes Lombok Tengah, Aktivitas Pesantren Jadi Sorotan

Devi Sry Atmaja 23 September 2026 3 penayangan

LOMBOK TENGAH - Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat di Desa Bunkate, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), memicu kekhawatiran para wali santri. Menyusul mencuatnya kasus tersebut, ratusan orang tua mendatangi lingkungan pesantren untuk menjemput anak-anak mereka pada Selasa (22/9/2026). Pimpinan pondok pesantren berinisial AIS diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah korban dengan berbagai modus. Berdasarkan informasi yang beredar, terduga pelaku disebut menjanjikan keberkahan kepada korban, mengaku memiliki kemampuan untuk mengobati berbagai masalah, hingga mengajak korban mengikuti ritual yang disebut sebagai mandi tobat.

Kasus ini langsung menjadi perhatian masyarakat dan menimbulkan keresahan di kalangan wali santri. Banyak orang tua memilih membawa pulang anak-anak mereka sebagai langkah antisipasi sambil menunggu proses hukum dan penyelidikan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Pada hari yang sama, hampir seluruh santri yang menempuh pendidikan di ponpes tersebut dijemput oleh keluarga masing-masing. Jumlah santri yang terdampak mencapai lebih dari 800 orang, sehingga suasana di lingkungan pesantren berubah drastis dengan hilir mudiknya wali santri yang datang dari berbagai daerah.

Kedatangan para orang tua tidak hanya untuk memastikan kondisi anak-anak mereka, tetapi juga mencari kepastian terkait keamanan dan kelanjutan proses pendidikan di pesantren tersebut. Sebagian wali santri mengaku khawatir setelah mendengar dugaan tindak pelecehan seksual yang melibatkan pimpinan lembaga pendidikan keagamaan tersebut. Dugaan kasus ini menambah daftar panjang perhatian terhadap perlindungan anak di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Berbagai pihak menegaskan bahwa setiap laporan dugaan kekerasan seksual harus ditangani secara serius, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku guna memberikan keadilan bagi para korban.

Sementara itu, aparat berwenang terus mendalami laporan yang telah diterima dengan mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak, termasuk korban, saksi, keluarga korban, serta pihak pesantren. Proses penyelidikan dilakukan untuk mengungkap secara utuh kronologi kejadian dan memastikan seluruh fakta yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana tersebut. Kasus ini juga memicu perhatian masyarakat luas di NTB. Banyak pihak berharap proses hukum berjalan secara profesional dan memberikan perlindungan maksimal kepada korban, terutama jika melibatkan anak-anak yang berada dalam lingkungan pendidikan.

Di tengah perkembangan kasus, aktivitas belajar mengajar di Ponpes Abul Barokat Wannafahat menjadi sorotan setelah sebagian besar santri meninggalkan kompleks pesantren bersama orang tua mereka. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya dampak sosial yang ditimbulkan oleh dugaan kasus pelecehan seksual tersebut terhadap kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah sembari menunggu hasil penyelidikan dan proses hukum yang sedang berlangsung. Namun demikian, perlindungan terhadap korban dan upaya pengungkapan fakta secara menyeluruh tetap menjadi prioritas utama dalam penanganan perkara ini.

Topik

Memuat tag...