Anggun, Judika, dan Prince Poetiray Guncang SUGBK, Budaya Indonesia Bersinar di Final ASEAN Cup
Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, berubah menjadi panggung perayaan budaya Indonesia saat final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Timnas Indonesia dan Thailand digelar, Senin (5/10/2026) malam. Selain menjadi arena perebutan trofi, pertandingan puncak tersebut juga dimeriahkan pertunjukan musik yang menghadirkan sejumlah penyanyi Tanah Air.
Anggun C. Sasmi, Judika, dan Prince Poetiray tampil dalam rangkaian hiburan yang menjadi bagian dari penutupan turnamen. Penampilan mereka tidak hanya menghadirkan lagu-lagu populer, tetapi juga membawa nuansa musik dan budaya Nusantara ke hadapan puluhan ribu penonton di SUGBK.
Rangkaian acara dimulai sebelum pertandingan dengan pertunjukan cahaya dan kembang api yang menerangi langit di sekitar stadion. Suasana semakin meriah ketika Prince Poetiray tampil membawakan "Selalu Ada di Nadimu", lagu yang menjadi soundtrack film animasi Jumbo
Setelah Prince Poetiray, giliran Anggun C. Sasmi mengambil alih panggung. Penyanyi yang telah lama berkarier di dalam dan luar negeri itu membawakan "Mimpi" dan "You With Me" dalam rangkaian seremoni penutupan. Penampilan Anggun semakin menarik perhatian karena dipadukan dengan tata cahaya dan video mapping yang memenuhi area lapangan SUGBK.
Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika Anggun membawakan "Snow on the Sahara". Lagu yang pertama kali dirilis di Prancis pada 1997 tersebut kembali terdengar di hadapan penonton Indonesia dalam suasana berbeda, yakni di tengah perhelatan sepak bola internasional yang mempertemukan Indonesia dan Thailand di partai puncak.
Penampilan tersebut juga mendapat sentuhan budaya Nusantara. Para penari latar tampil dengan kostum bernuansa adat, termasuk elemen yang mengangkat identitas budaya Dayak. Perpaduan musik, tari, tata cahaya, dan video mapping membuat lapangan SUGBK tidak sekadar menjadi arena pertandingan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada penonton yang menyaksikan turnamen tersebut.
Kemeriahan kemudian berlanjut pada saat jeda pertandingan. Judika tampil membawakan "Laskar Pelangi" dan "Yamko Rambe Yamko". Dua lagu tersebut menghadirkan warna berbeda, dari lagu populer Indonesia hingga lagu yang dikenal luas sebagai bagian dari kekayaan musik tradisional Papua.
Anggun kemudian kembali ke panggung dengan membawakan "Sik Sik Sibatumanikam", sementara Prince Poetiray tampil dengan "Si Patokaan". Pilihan lagu tersebut semakin mempertegas konsep pertunjukan yang mengangkat keberagaman musik dari berbagai daerah Indonesia.
Pertunjukan budaya tersebut menjadi bagian dari atmosfer besar final FIFA ASEAN Cup 2026. SUGBK dipenuhi pendukung Indonesia yang datang untuk menyaksikan langsung perjuangan skuad Garuda menghadapi Thailand dalam perebutan gelar juara.
Tak hanya musisi Tanah Air, sejumlah tokoh penting sepak bola dunia juga hadir di SUGBK. Presiden FIFA Gianni Infantino menyaksikan langsung pertandingan final, sementara trofi FIFA ASEAN Cup 2026 dibawa ke lapangan oleh Infantino bersama Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Dua legenda sepak bola internasional, Dimitar Berbatov dan Pedro Rodríguez, juga hadir dalam rangkaian acara tersebut.
Kehadiran para musisi dan tokoh sepak bola internasional membuat final FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi lebih dari sekadar pertandingan perebutan gelar. Perhelatan tersebut mempertemukan olahraga, musik, hiburan, dan budaya dalam satu panggung besar di Jakarta.
Bagi Anggun, penampilan di SUGBK juga memiliki makna tersendiri. Ia pernah tampil di stadion tersebut sejak masih berusia 16 tahun ketika memulai karier sebagai penyanyi rock. Setelah tampil dalam pembukaan Asian Games, Anggun kembali ke Jakarta untuk menjadi bagian dari seremoni FIFA ASEAN Cup 2026.
Sementara itu, kehadiran Prince Poetiray memberikan warna tersendiri bagi acara tersebut. Penyanyi muda itu mendapat kesempatan membuka rangkaian pertunjukan dengan lagu "Selalu Ada di Nadimu", sebelum panggung beralih kepada Anggun dan kemudian dilanjutkan oleh penampilan musik lainnya.
Dari "Mimpi" hingga "Snow on the Sahara", kemudian dilanjutkan dengan lagu-lagu bernuansa Nusantara seperti "Yamko Rambe Yamko", "Sik Sik Sibatumanikam", dan "Si Patokaan", panggung final FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi gambaran bagaimana sepak bola dapat menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi budaya.
Gemerlap lampu stadion, koreografi suporter, kembang api, musik, serta pertunjukan budaya mengiringi malam besar sepak bola Indonesia. Di tengah atmosfer pertandingan Indonesia versus Thailand, SUGBK sekaligus menjadi panggung yang memperlihatkan keberagaman seni dan budaya Indonesia kepada publik yang hadir.
Final FIFA ASEAN Cup 2026 pun akhirnya tidak hanya meninggalkan cerita tentang persaingan di lapangan hijau. Di balik perebutan trofi, ada sebuah perayaan yang menyatukan sepak bola dan kebudayaan, dengan Anggun, Judika, serta Prince Poetiray menjadi bagian dari wajah Indonesia yang tampil di panggung besar tersebut.