Nasional

Bawa Golok Saat Keributan Ibadah GKPI di Rajeg, Aji Cahyono Minta Maaf dan Akui Khilaf

Fazlur Rahman 23 September 2026 2 penayangan

Aji Cahyono, pria yang terlihat membawa senjata tajam jenis golok saat terjadi keributan dalam kegiatan ibadah jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Desa Mekarsari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Permintaan maaf itu disampaikan melalui sebuah video yang beredar di media sosial setelah peristiwa yang terjadi pada Minggu (20/9/2026). Dalam rekaman tersebut, Aji mengaku khilaf dan meminta maaf kepada jemaat GKPI atas tindakannya saat keributan berlangsung.

“Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada umat Kristen atas kejadian yang tadi siang,” ujar Aji dalam video tersebut.

Aji juga menjelaskan mengenai alasan dirinya membawa golok ketika berada di lokasi. Ia mengatakan saat itu baru selesai memotong rumput sehingga golok yang terlihat dalam video masih dibawanya.

Menurut pengakuannya, keberadaan senjata tajam tersebut tidak disiapkan secara khusus untuk menghadapi jemaat. Namun, ia mengakui tindakannya dalam situasi keributan tersebut merupakan sebuah kekhilafan dan menyampaikan penyesalan atas kejadian yang terjadi.

Peristiwa tersebut sebelumnya viral setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah warga mendatangi lokasi kegiatan ibadah jemaat GKPI di Kampung Periuk, Desa Mekarsari. Dalam rekaman yang beredar, terjadi perbedaan pendapat antara warga dan jemaat mengenai pelaksanaan kegiatan ibadah di lokasi tersebut.

Dalam situasi itu, Aji terlihat membawa golok. Rekaman tersebut kemudian menimbulkan perhatian luas di media sosial karena memperlihatkan adanya senjata tajam di tengah keributan yang berkaitan dengan kegiatan ibadah.

Kepolisian kemudian turun untuk mengamankan situasi. Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah

Menurut Indra, proses penyelesaian dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, tokoh masyarakat, tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kementerian Agama, serta unsur Muspika Kecamatan Rajeg. Musyawarah berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Rajeg pada Minggu malam.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang konflik. Kesepakatan itu juga dituangkan dalam surat pernyataan bersama sebagai bentuk komitmen untuk menjaga keamanan dan kerukunan di lingkungan masyarakat.

Indra mengatakan penyelesaian melalui dialog menjadi langkah penting untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Polisi juga mengajak seluruh pihak menjaga ketenangan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas.

“Yang paling utama adalah menjaga kerukunan dan keamanan masyarakat,” kata Indra.

Dalam kesepakatan tersebut, pemerintah daerah juga akan membantu mencarikan tempat ibadah sementara bagi jemaat GKPI

Persoalan mengenai lokasi kegiatan ibadah menjadi bagian dari latar belakang peristiwa. Dalam video yang beredar, sejumlah warga mempertanyakan status perizinan tempat yang digunakan untuk beribadah. Pihak jemaat kemudian berdialog dengan warga sebelum aparat mengambil langkah pengamanan dan mediasi.

Perwakilan jemaat GKPI disebut menerima penyelesaian secara damai. Mereka juga mengapresiasi permintaan maaf yang disampaikan Aji dan berharap seluruh pihak dapat kembali menjaga hubungan baik di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

Sementara itu, muncul pula perhatian dari organisasi keagamaan dan kelompok masyarakat sipil mengenai peristiwa tersebut, khususnya menyangkut kebebasan menjalankan ibadah serta penanganan apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai rumah ibadah. Sejumlah pihak mendorong agar persoalan semacam itu diselesaikan melalui jalur hukum dan dialog tanpa intimidasi maupun kekerasan.

Namun, dari sisi kepolisian, prioritas saat ini adalah memastikan situasi di Rajeg tetap aman dan tidak berkembang menjadi konflik antarkelompok. Polisi menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta FKUB untuk mengawal kondisi di wilayah tersebut.

Permintaan maaf Aji menjadi salah satu perkembangan penting setelah video keributan tersebut menyebar luas. Kalimat penyesalan itu juga menunjukkan adanya upaya dari pihak yang terlibat untuk meredakan ketegangan setelah peristiwa yang sempat menarik perhatian publik.

Meski telah ada kesepakatan damai, kejadian tersebut tetap menjadi pengingat bahwa persoalan yang berkaitan dengan kegiatan ibadah membutuhkan penanganan yang hati-hati. Perbedaan mengenai tempat ibadah, perizinan, maupun aktivitas keagamaan perlu diselesaikan melalui mekanisme yang berlaku dan dialog antarpihak, bukan dengan ancaman ataupun tindakan yang berpotensi membahayakan.

Kasus di Mekarsari juga memperlihatkan bagaimana sebuah insiden lokal dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial. Satu potongan video dapat memunculkan berbagai reaksi sebelum seluruh rangkaian kejadian diketahui secara lengkap. Karena itu, imbauan polisi agar masyarakat tidak mudah terprovokasi menjadi relevan dalam menjaga situasi tetap kondusif.

Di sisi lain, pemerintah daerah kini memiliki pekerjaan lanjutan untuk memastikan kesepakatan yang telah dicapai benar-benar berjalan. Penyediaan lokasi sementara bagi jemaat dan proses terkait perizinan menjadi bagian penting agar persoalan serupa tidak kembali muncul.

Bagi Aji Cahyono, permintaan maaf tersebut menjadi bentuk tanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya ketika keributan berlangsung. Sementara bagi jemaat GKPI dan warga sekitar, kesepakatan damai menjadi langkah awal untuk mengembalikan kehidupan masyarakat ke kondisi yang tenang.

Polisi menegaskan keberagaman masyarakat harus dijaga bersama. Hak setiap warga untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat yang harus dihormati, sementara setiap persoalan mengenai penggunaan tempat harus ditempuh melalui aturan dan komunikasi yang berlaku.

Kini, setelah Aji menyampaikan permintaan maaf dan kedua pihak sepakat berdamai, perhatian beralih pada bagaimana kesepakatan tersebut dilaksanakan. Pemerintah daerah diharapkan dapat memfasilitasi solusi tempat ibadah sementara, sedangkan seluruh pihak diminta menahan diri agar persoalan yang sempat memanas tidak kembali berkembang.

Peristiwa di Rajeg pada akhirnya bukan hanya tentang seorang pria yang membawa golok saat keributan. Lebih jauh, kejadian tersebut menjadi ujian bagi kemampuan masyarakat, pemerintah, dan aparat dalam menyelesaikan perbedaan secara damai.

Dengan permintaan maaf yang telah disampaikan dan kesepakatan musyawarah yang telah dicapai, harapannya ketegangan di Desa Mekarsari benar-benar berakhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan kerukunan, keamanan, dan kebebasan menjalankan ibadah dapat berjalan berdampingan tanpa kembali diwarnai intimidasi maupun kekerasan.

Topik

Memuat tag...